5 Aktivitas Sensory-Friendly untuk Anak Autisme di Rumah, Efektif Redakan Overstimulasi

waktu baca 4 menit
Kamis, 9 Apr 2026 23:45 41 Nazwa

KESEHATAN | TD – Setiap anak memiliki cara unik dalam merespons lingkungan di sekitarnya, termasuk anak dengan kondisi autistik. Bagi sebagian dari mereka, rangsangan seperti suara keras, cahaya terang, atau bahkan sentuhan tertentu bisa terasa jauh lebih intens dibandingkan anak lain. Kondisi ini membuat anak mudah merasa tidak nyaman, cemas, bahkan kewalahan jika tidak didampingi dengan pendekatan yang tepat.

Karena itu, orang tua perlu memahami bagaimana menciptakan suasana yang mendukung kebutuhan sensorik anak. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menghadirkan kegiatan sensory-friendly di rumah, yaitu aktivitas yang dirancang agar memberikan stimulasi yang aman, terkontrol, dan menenangkan.

Apa Itu Autistik? Apakah Sama dengan Autisme?

Istilah autisme merujuk pada kondisi gangguan perkembangan neurologis yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta memproses rangsangan dari lingkungan. Kondisi ini dikenal sebagai spektrum karena setiap individu dapat memiliki karakteristik dan tingkat kebutuhan yang berbeda-beda.

Sementara itu, kata “autistik” biasanya digunakan untuk menyebut individu yang berada dalam spektrum autisme. Dengan kata lain, autisme adalah kondisi yang dimiliki, sedangkan autistik adalah istilah untuk menggambarkan orangnya.

Dalam perkembangannya, banyak pihak kini lebih memilih penggunaan istilah “anak dengan autisme” karena dinilai lebih menghargai individu, bukan mendefinisikan mereka hanya dari kondisinya. Meski begitu, kedua istilah tersebut masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Untuk membantu anak merasa lebih nyaman, berikut beberapa kegiatan sensory-friendly yang bisa dilakukan di rumah:

1. Eksplorasi air dengan suhu berbeda

Bermain air tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan pengalaman sensorik yang kaya. Orang tua bisa menyiapkan dua wadah berisi air hangat dan air dingin, lalu membiarkan anak merasakan perbedaannya secara perlahan.

Perubahan suhu ini membantu anak mengenali sensasi baru dengan cara yang aman. Selain itu, suara gemericik air dan sentuhan cairan di kulit juga dapat memberikan efek relaksasi.

2. Bermain dengan bahan kering seperti beras atau kacang

Mengisi wadah dengan beras, kacang hijau, atau biji-bijian lain lalu menyembunyikan benda kecil di dalamnya bisa menjadi permainan yang menarik. Anak akan mencari benda tersebut menggunakan tangan.

Aktivitas ini merangsang indra peraba sekaligus melatih fokus dan kesabaran. Sensasi butiran yang bergerak di sela jari juga sering memberikan rasa nyaman bagi anak yang membutuhkan stimulasi sensorik ringan.

3. Menyediakan ruang tenang di rumah

Selain aktivitas fisik, penting juga menyediakan area khusus yang minim rangsangan. Ruang ini bisa diisi dengan bantal empuk, pencahayaan redup, dan suasana yang tenang.

Tempat ini berfungsi sebagai “zona aman” bagi anak ketika mulai merasa lelah atau kewalahan. Dengan adanya ruang ini, anak memiliki kesempatan untuk menenangkan diri dan mengatur kembali emosinya secara mandiri.

4. Membuat lintasan rintangan sederhana

Orang tua dapat menyusun bantal, guling, atau selimut menjadi jalur permainan di dalam rumah. Anak bisa diajak merangkak, melompat kecil, atau berjalan mengikuti lintasan tersebut.

Kegiatan ini memberikan tekanan pada tubuh yang dikenal sebagai deep pressure, yang seringkali memberikan efek menenangkan bagi anak autistik. Selain itu, aktivitas ini juga membantu meningkatkan keseimbangan dan koordinasi gerak.

5. Bermain adonan dengan berbagai tekstur

Mengajak anak bermain dengan adonan seperti playdough atau campuran tepung sederhana bisa menjadi aktivitas yang menenangkan. Anak dapat meremas, menggulung, atau membentuk berbagai objek sesuai imajinasinya.

Tekstur yang lembut dan fleksibel memberikan stimulasi pada indra peraba sekaligus membantu meredakan ketegangan. Aktivitas ini juga bermanfaat untuk melatih motorik halus, terutama kekuatan otot jari dan koordinasi tangan.

Penutup

Mendampingi anak dengan autisme membutuhkan kesabaran dan pemahaman yang mendalam terhadap kebutuhan mereka. Kegiatan sensory-friendly bukan sekadar aktivitas bermain, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membantu anak mengenali, mengelola, dan merespons berbagai rangsangan dari lingkungan.

Dengan menciptakan suasana yang aman dan nyaman di rumah, orang tua tidak hanya mendukung perkembangan sensorik anak, tetapi juga membantu membangun rasa percaya diri dan ketenangan emosional. Pendekatan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar bagi kualitas hidup anak dalam jangka panjang. (Nazwa)

LAINNYA